Krisis AS: Jatuhnya Lembaga-lembaga Keuangan di AS dan Turunnya Harga Saham
Di Amerika kredit perumahan dikumpulkan dalam jumlah besar kemudian disulap menjadi suatu bentuk surat berharga (sekuritas) yang dijamin dengan kredit pemilikan rumah (KPR) yang disebut mortgage back securities (MBS) dengan varian yang bernama collateralized debt obligation (CDO). Pembayaran cicilan kredit rumah yang dibayar nasabah akan diteruskan oleh bank kepada pemegang CDO dan MBS. Pemegang CDO dan MBS dalam jumlah besar adalah Fannie Mae, Freddie Mac, serta bank-bank besar yaitu Citigroup dan UBS.
Fannie Mae dan Freddie Mac adalah lembaga keuangan yang didirikan pemerintah Amerika untuk melakukan proses sekuritas atau pegubahan bentuk kredit perumahan menjadi CDO dan MBS. Otomatis mereka memiliki CDO dan MBS yang belum terjual dalam jumlah besar. Dan pada saat cicilan kredit mulai seret, pasar memperkirakan 2 perusahaan itu bakal rugi besar sehingga banyak investor 2 perusahaan tersebut berlomba menjual saham mereka. Maka harga saham Fannie Mae dan Freddie Mac pun jatuh. Ingat prinsip ekonomi: penawaran/penjualan/demand tinggi maka harga rendah, permintaan/pembelian/supply tinggi maka harga tinggi.
Bank-bank besar yaitu Citigroup dan UBS mengalami kerugian besar akibat turunnya harga CDO dan MBS yang mengakibatkan mereka rugi besar dan modalnya menyusut. Maka investor pun ramai-ramai melepas saham mereka dan harga saham bank tersebut ikut anjlok.
Meluasnya Krisis AS Menjadi Krisis Blobal
Kegiatan jual-menjual saham semacam itu terus meluas menjadi efek domino yang sangat panjang sehingga banyak perusahaan-perusahaan lain sahamnya ikut turun. Bukan hanya di Amerika, di negara-negara lain di seluruh dunia ikut mengalami efek serupa karena para investor dari negeri Paman Sam tersebut melepas saham mereka yang tersebar di semua negara. Akhirnya para investor dari negara-negara selain AS pun ikut selangkah dengan investor AS karena menghadapi masalah yang sama.
Selain masalah jual menjual saham krisis global juga di pengaruhi oleh menurunnya ekspor negara-negara di dunia ke AS karena banyak perusahaan di Amerika yang gulung tikar dan menghentikan impor barang. Sehingga nilai ekspor semakin kecil dan pendapatan turun.
Namun jangan kuatir karena krisis global kali ini tidak begitu keras menghantam perekonomian Indonesia. Krisis ini berkutat di pasar saham sedangkan pasar saham di Indonesia hanya 2% dari keseluruhan perekonomian Indonesia, berbeda dengan Singapura yang pasar sahamnya hampir 50% dari total perekonomiannya. Pemain saham (orang kaya) di Indonesia jumlahnya sangat kecil sehingga efeknya hanya dirasakan segelintir orang saja. Inilah enaknya jadi orang kecil! Selain itu nilai ekspor Indonesia juga kecil dan ekspor di dominasi ekspor hasil tambang yang merupakan kebutuhan vital industri manufaktur sehingga penurunan permintaan tidak begitu signifikan.
Walaupun Krisis AS menciptakan krisis global yang begitu gawat, krisis kali ini juga memberi efek positif terhadap krisis global sebelum krisis ini yaitu krisis minyak. Ya, banyaknya industri di AS yang mengurangi atau menghentikan kegiatan produksinya mengakibatkan permintaan minyak turun sehingga harga minyak pun anjlok dari $120 menjadi $77 (dan pastinya pendapatan Roman Abrahamovic dan Sulaiman Al Fahim anjlok juga sehingga Chelsea dan Manchester City tidak akan sok kaya lagi).
|
|
***
Ditulis Oleh Yusron
Saturday, 4 October 2008 |
|
|
|







