Kasihan Bapak Itu!
Sebenarnya yang ingin saya tulis adalah “Naik Kereta Api tut tut tut” namun karena ada peristiwa mengerikan itu, saya bermaksud mengubah judulnya dan isinya menjadi “Kereta Berdarah”. Tapi karena terdengar seperti judul film horor atau cerita seram maka jadilah judulnya ya itu.
Hari Jumat saya bersama-sama 24 teman kuliah di STAN Jakarta naik kereta api Ekonomi Matarmaja jurusan Jakarta-Malang dari stasiun Pasar Senen. Dalam kereta itu bukan hanya teman-teman kuliah dari Kediri tetapi juga dari Malang yang jumlahnya 2 kali lebih banyak. Saya dan beberapa rekan saya duduk di gerbong 8 dan saya sendiri duduk di kursi yang menghadap belakang. Saat itu sedang libur panjang akhir tahun dan saya agak sedikit flu dan batuk.
Seperti layaknya kereta ekonomi lainnya, pedagang asongan terus berlalu lalang membuat suasana di dalam kereta jadi semakin berisik dan gerahnya minta ampun. Namun yang membuat perjalanan kali ini menjadikan hati saya miris adalah ketika kereta memasuki daerah Jatibarang, Jawa Barat. Tepatnya jam setengah lima sore, seorang bapak-bapak pedagang asongan di depan saya tiba-tiba meringis menahan sakit sambil ber-istighfar, bersamaan dengan itu terdengar suara benda keras terjatuh di lantai gerbong. Seketika itu si Bapak tadi memegangi kepalanya dan dagangannya pun jatuh berserakan di lantai. Tidak lama setelah itu dia pingsan dan pelipis kanan Bapak itu bercucuran darah. Teriak histeris beberapa penumpang dan pedagang wanita serta tangis anak kecil menambah kelam sore itu.
Tebak apa yang terjadi!
Jika anda seorang yang sering bepergian dengan kereta api ekonomi anda pasti langsung mengerti apa yang terjadi. Ya, seperti biasa ulah para pemukim di pinggiran rel kereta api yang melempari kereta dengan batu. Entah ulah orang dewasa atau anak kecil yang hanya sekedar iseng namun sering menghacurkan kaca-kaca kereta dan melukai penumpang dalam kereta.
Peristiwa ini bukan kali pertama saya temui. Pertama, saat itu saya sedang tidur tiba-tiba kaca kereta dihantam batu dan pecahannya kecil-kecil berhamburan dan beruntung sekali mata saya sedang terpejam. Kedua, terjadi di daerah Semarang yang melukai seorang ibu-ibu. Pecahan kaca masuk ke dalam salah satu bola mata ibu itu. Dan kali ini sebuah batu sebesar kepalan tangan orang dewasa meluncur dari jendela kiri kereta dan menghantam pelipis kanan pedagang asongan itu. Sampai tiba di stasiun Jatibarang bapak itu dibopong keluar gerbong dalam keadaan tetap tak sadarkan diri .
Mungkin peristiwa seperti ini tidak asing lagi bagi sebagian besar penumpang setia kereta api seperti saya, namun saya menulis ini agar anda semua tahu tindakan iseng semacam itu sangat berbahaya. Jika salah seorang pembaca atau teman anda tinggal di sekitar rel kereta api atau bukan kedua-duanya, saya mohon dengan sangat kesadarannya atau penyadarannya kepada orang-orang tak bertanggung jawab seperti itu. Saya tidak berharap banyak terhadap PT KAI karena peristiwa semacam ini tidak pernah terdengar tindakan dari PT KAI sendiri, entah itu antisipasi maupun penegakan hukum kepada orang-orang ‘bodoh’ itu. PT KAI sebaiknya melakukan tindakan pencegahan dan pengejaran dan selalu ditayangkan di media massa agar peristiwa ini disadari banyak orang.
|
|
***
Ditulis Oleh Yusron
Sunday, 21 December 2008 |
|
|
|








Belum ada komentar.