STAN dan Perguruan Tinggi di Indonesia
Yusron, 12 December 2007
Kebanyakan orang mengetahui secara pasti Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Universitas Hasanudin, UI, ITB, UNAIR, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS Surabaya), IPB, UGM, dan UNIBRAW, merupakan sebagian dari Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. PTN-PTN tersebut sangat dikenal dan diminati oleh ratusan ribu lulusan SMA yang ingin melanjutkan studinya. Selain mutu dosen pengajar, fasilitas pendidikan, dan fasilitas fisiknya yang tidak perlu diragukan lagi, PTN juga melahirkan mahasiswa penuh prestasi dan lulusan-lulusan yang selalu dicari-cari oleh penyedia lowongan kerja. Di antara PTN-PTN tersebut seperti UI, ITB, dan ITS, banyak sekali tersedia kesempatan beasiswa yang tinggal diambil. Jadi tidak heran kalau Perguruan Tinggi Negeri selalu dibanjiri peminat yang berusaha diterima melalui jalur SPMB, SPMK, Kemitraan, dan masih banyak jalur lain yang entah itu halal atau tidak.
Alternatif bagi yang tidak mau dan tidak ‘mampu’ bersaing dalam ajang memperebutkan kursi PTN, gampang, beli atau buat saja kursi sendiri he he. Bercanda, maksudnya adalah Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia jumlahnya banyak sekali dan bertebaran hampir di setiap kota, yang paling terkenal yaitu Universitas Trisakti dan Universitas Pancasila. Jalur untuk diterima sebagai mahasiswa PTS ada yang melalui tes dan hampir semuanya tinggal bayar. Yang pasti price-nya tidak murah dan untuk menemukan PTS yang berkualitas sangat sulit.
Terus bagaimana dengan perguruan tinggi Kanuragan dan perguruan pencak silat? Kalau yang seperti itu mene ketehe.
Jenis perguruan tinggi yang lain yaitu Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK). Ada beberapa perguruan tinggi semacam ini dan semuanya merupakan Perguruan Tinggi yang didirikan dan dibiayai oleh Departemen-departemen milik Pemerintah. Selama pendidikan tidak ditarik uang kuliah alias gratis. Namun untuk dapat diterima di Perguruan Tinggi semacam ini beberapa ada yang sangat sulit bahkan lebih susah daripada PTN favorit sekalipun. Hal ini karena masing-masing PTK menyaring pendaftar berdasarkan kriteria tertentu sesuai dengan sistem pendidikannya dan bidang kerja Departemennya, contohnya IPDN yang dididik secara semi militer. Selain itu karena jumlah peminatnya yang luar biasa banyak dengan kapasitas penerimaan yang sangat minim, contohnya Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dengan pendaftar mencapai 125.000 dan kapasitas penerimaan kurang lebih 2.000 orang saja.
